Efek Demam Batu Akik,Pembelah Batu Juga Ketiban Rezeki

blogger templates
Laporan Muchlis Gurdhum
Seorang Pembelah batu di Lhokseumawe, sedang melakukan pekerjaannya membelah batu akik. sejak demam batu akik melanda Aceh, jasa pembelah batu akik terlihat menjamur. (Foto Muchlis Gurdhum) 
Semenjak demam batu akik dan sejenisnya melanda daerah dalam setahun terakhir, banyak kegiatan usaha masyarakat yang lahir dan berkaitan langsung dengan batu cincin. Mulai dari pencari hingga penjual berbagai jenis batu berharga, kerajinan asah batu, pedagang gagang cincin dan lain sebagainya.

Namun ada kegiatan yang tak kalah pentingnya dengan masalah demam batu akik ini, yang memiliki peran penting. Yaitu, usaha belah batu.  Banyak warga yang menjual jasa menjadi pembelah batu. Dengan modal mesin kecil yang dilengkapi dengan mata potong batu dan seperangkat meja. Maka jasapun terbayarkan jika ada pecinta batu yang meminta dibelah batunya.

Bagai tanaman Angrek yang tumbuh pada batang tanaman lain, usaha jasa pembelah batu tidak jauh lokasinya dengan para pengasah batu cincin. Umumnya, disamping kumpulan para pengrajin batu cincin, terlihat ada pembelah batu.

Jasa membelah batu itu juga ada yang memasang tarif ukuran batu yang dibelah atau dipotong secara per Inchinya. Namun ada juga yang tidak memasang tarif sama sekali tergantung dari kesepakatan saja. Umumnya, jasa belah batu di Lhokseumawe, jika dihitung per Inchinya sebesar Rp 5000/ potong, dengan harga yang telah tertulis pada selembar kertas.  

Seperti Mahdi, salah seorang pembelah batu di kawasan Simpang Citra, Lhokseumawe. Dirinya tidak memasang tarif khusus untuk jasa belah atau potong batu yang akan digunakan sebagai batu cincin tersebut. Namun masalah harga disesuaikan dengan jumlah batu yang dibelah dan tingkat kepayahan atau kekerasan batu.

Jika kondisi batunya keras dan besar, dirinya itu, mengambil upah jasa sampai 40 Ribu Rupiah. Namun kadangkala hanya Rp 5.000 hingga Rp 10.000, saja yang ia ambil jika batunya sedikit lunak dan dalam jumlah kecil, ungkap pria yang akrab dipanggil Suhu itu.
“Mengenai harga, sangat tergantung dari jumlah batu yang dipotong dan tingkat kekerasannya,” ujar Mahdi.

Dari upah yang diterima oleh penjual jasa pembelahan batu ini, sebagian besar masuk ke kantong. Namun tidak lupa disisihkan untuk kebutuhan bahan bakar minyak dan juga pengantian mata potong batu jika sudah habis atau aus.

Dari usaha membelah batu itu, Mahdi mengaku cukup untuk membiyayai kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Terkadang dalam satu hari omset bersih yang didapatnya setelah dipotong biaya untuk BBM dan lain sebagainya mencapi Rp 150.000 hari. Namun, kondisinya sangat tergantung dari jumlah warga yang ingin membelah batu.

Sebagaimana diketahui, sejak demam batu akik dan sejenisnya melanda Aceh khususnya, berbagai usaha yang terkait dibidang itu lahir. Seperti usaha kerajinan asah batu cincin, tidak hanya dilakukan dipasar atau ditempat keramaian. Namun teras rumah juga disulap menjadi usaha mengasah batu cincin. Sudut-sudut bangunan kosong juga disulap menjadi arena mengasah batu cincin.

Usaha kerajinan batu cincin juga begitu booming jumlahnya di Lhokseumawe. Selain ada pengrajin yang terlebih dahulu terjun pada usaha asah batu cincin, juga diramaikan oleh pengrajin batu pemula.

Meskipun masih dianggap pemula. Namun banyak juga masyarakat penikmat keindahan batu memanfaatkan jasa pengrajin dadakan ini. Hal itu tidak terlepas dari tidak tertampungnya minat masyarakat yang ingin mengasah batu kesayangannya menjadi sebuah perhiasan yang setiap hari semakin tinggi jumlah. (*)