FEATURES: Melihat Geliat Usaha Demam Batu Akik

blogger templates
Laporan: Muchlis, Lhokseumawe
Fakhrijal, tampak sedang melayani pembeli batu akik dikiosnya. (foto: Muchlis Gurdhum)

Wartawan Juga Ikut Nyambi Bisnis Batu Akik

Suasana di pasar Buah Lhokseumawe sangat ramai pada sore hari hingga malam hari. Suasana ramai seperti itu, begitu tampak dalam beberapa bulan terakhir ini. Yaitu, sejak demam batu akik melanda Aceh pada umumnya dan Lhokseumawe pada khususnya.

Banyak warga yang terjun kedalam bisnis batu akik ini. Mulai dari usaha membelah batu, mengasah hingga menjual batu yang sudah menjadi cincin.  Semua terlihat di arena pasar buah Lhokseumawe, yang sebagian sudutnya telah menjadi pasar batu.

Namun yang menarik dari geliat usaha batu akik ini adalah,  banyak juga kuli tinta  yang terjun mengeluti bisnis batu akik tersebut. Ada yang menjajakan dangangannya layaknya pedagang sungguhan dengan mengusung rak berjualan dipinggir jalan blok pasar, hingga ada yang menjualnya secara pesanan.

Seperti Fakhrijal Salim, salah seorang wartawan kawakan di Lhokseumawe. Tidak tangung-tangung, pria bertubuh tambun tersebut, membuka lapak batu didepan kiosnya. Berbagai jenis batu yang sudah siap dipakai menghiasi rak kaca.

Begitu juga dengan berbagai jenis batu yang belum jadi dan masih berbentuk bongkahan, turut menghiasi meja dangangannya. Tidak lupa pula berbagai jenis gagang berbahan Titanium ikut meramaikan rak dangangannya.

Saat dijumpai oleh Atjeh Bisnis pada malam hari, Fakhrijal terlihat sedang melayani pengunjung ditempatnya berjualan batu akik. Dengan santainya, pria itu menjelaskan harga batu plus keindahan serta bahan batu yang dipilih oleh calon pembeli.

Jika cocok dengan selera, barang langsung dibungkus dan beberapa lembar merah Rupiah pun berpindah tangan ke kantongnya. 

Terhadap motivasi dirinya berbisnis sambilan menjual batu akik, kepada Atjeh Bisnis, Fakhrijal mengatakan, bahwa dirinya tertarik berbisnis batu akik, karena melihat peluang yang besar dalam bisnis tersebut saat ini.

“Sekarang, bisnis batu akik sangat terbuka besar prospek pasarnya. Makanya saya tertarik berbisnis batu ini,” ujar Fakhrijal.

Menurut penjelasannya, jenis batu yang banyak laku terjual, umumnya didominasi oleh jenis batu  indocrase, black jade dan jenis-jenis giok lainnya. Sedangkan batu jenis akik tidak tentu harganya dan sangat tergantung dari motif yang ada dalam batu akik tersebut.

“Untuk berbagai jenis batu, umumnya sekitar Rp 500.000 kebawah per butirnya, kecuali untuk kualitas super, jelas Fakhrijal.

Selain memperoleh omset dari berjualan batu, pria ini juga mengatakan, untuk gagang cincin yang berbahan Titanium juga banyak yang laku. Bahkan dalam satu hari, mampu terjual hingga 10 gagang cincin. Harga gagang cincin itu sendiri dibanderol olehnya dengan harga Rp 90.000/ gagang.

Terkait dirinya sebagai wartawan. Fakhrijal mengatakan, bahwa dirinya hanya nyambi saja berbisnis batu akik. Selain  tetap melakukan kegiatan jurnalistik dipagi hari, sore hingga malam harinya digunakan untuk berjualan batu.

“Meliput tetap, tapi itu dipagi hari, jika setengah hari hingga malam saya lebih banyak disini berjualan batu. Apalagi pasar batu, hanya ramai setengah hari keatas saja,” ungkapnya.

Dikatakan olehnya, banyak rekan-rekan jurnalis di Lhokseumawe yang terjun berbisnis batu akik. Sebagian kecil membuka kios seperti dirinya dan ada juga yang berbisnis batu kecil-kecilan.

Seperti dikatakan oleh Fakhrijal, berbisnis batu cincin merupakan salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan agar dapur dirumah dan kebutuhan hidup sehari-hari dapat terpenuhi. Apabila hanya mengandalkan pendapatan penghasilan dari kegiatan jurnalis tentu tidak akan mencukupi.

“Ini bagian dari menjaga idealisme wartawan. Apalagi bagi kita yang bekerja pada media lokal, kan tahu sendiri bagaimana penghasilan kita. Tentu saja lebih baik berbinis seperti ini, daripada merampok,” ujarnya tertawa.

Demam batu akik, memang begitu menyihir. Seakan semua orang terutama kaum pria disemua tempat menjadi terhipnotis dengan pesona keindahan batu akik. Apalagi batu yang dipakai memiliki kualitas bagus dan bernilai, tentu akan menaikkan pesona dan prestise sipemakainya.  

Kembali kepada bisnis batu akik, bukan hanya Fakhrijal saja yang terjun kedalam dunia bisnis yang tergolong baru ini. Beberapa wartawan lainnya juga ikut ambil bagian dalam bisnis tersebut. Umumnya mereka berjualan secara individu dan menawarkan barangnya secara satu persatu.

Dengan memanfaatkan keunggulan telepon pintar, mereka mengupload gambar batu akik dan menaruhnya di Display Picture BBM atau Android. Dengan harapan, jaringan kontak mereka dapat melihat barang yang ditawarkannya. Jika deal, penjual dan pembeli pun bertemu dan batu akikpun bertukar dengan lembaran Rupiah.

Ada juga yang menjadi perantara, apabila ada yang menjual batu akik dan yang model bisnis seperti ini siap meneruskan dan mencari calon pembeli. Jika tercapai kesepakatan, tentu saja ada feenya.

Demam batu akik telah menjadi sebuah lapangan usaha baru. Siapa saja dapat terjun dalam dunia bisnis ini. Modal bukanlah segalanya, namun dengan jaringan relasi yang luas sudah dapat terjun kedalam dunia usaha tersebut.

Karena batu akik ataupun sejenisnya, bukan lagi hanya berbicara sebatas keindahan semata. Akan tetapi telah berkembang menjadi buah tangan atau tanda ucapan terima kasih kepada relasi bisnis ataupun kerabat.


Maka tidak mengherankan, jika bisnis batu akik semakin berkembang seiring berkembangnya fungsi batu akik itu sendiri sebagai penyambung tali silaturahmi dan memberi kesan mendalam akan estetika dan seni.(*)